Harapan dan rencana pemerintah bahwa Indonesia akan mencapai masa keemasan di tahun 2045, tepat dengan puncak bonus demografi. Momentum itu mampu membuat Indonesia menjadi negara maju. Namun, kita perlu kritis dalam melihat realita di negeri ini. Bonus demografi itu berpotensi menjadi bencana, seperti di Afrika Selatan. Pengangguran pada generasi milenial mencapai 53%. Satu di antara dua penyebabnya, yaitu pendidikan yang tidak berkualitas sehingga menghasilkan kualitas manusia yang rendah.
Output pendidikan berupa kualitas manusia ditentukan oleh sang arsitek, yaitu pengajar (guru dan dosen). Tetapi, pendidikan masih jauh dari kata berkualitas, baik dari kesejahteraan guru, atau fasilitasnya. Hasil survei Bank Dunia pada tahun 2020 menyatakan kualitas guru di Indonesia masih rendah, khususnya di daerah terpencil yang bukan lulusan sarjana. Ditambah, kondisi kesejahteraan guru yang rendah. Databoks tahun 2022 menyebutkan ada 48% guru bukan PNS di Indonesia memiliki gaji lebih rendah dan akses terbatas terhadap tunjangan. Fasilitas pendidikannya juga masih rendah. Data Kemendikbud pada tahun 2019 yang menyebut hanya 37% sekolah memiliki fasilitas memadai.
Pengajar adalah arsitek dalam memanfaatkan momentum bonus demografi dan menghasilkan masa depan emas bagi Indonesia. Namun, nasib dosen dan guru masih butuh penghasilan tambahan untuk mendapatkan kesejahteraan. Pilihan rasional itu dilakukan atas realita untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Jepang berhasil bangkit pasca Perang Dunia II dengan fokus pada pendidikan. Hasilnya dalam dua dekade berhasil menjadi negara maju dan menghadirkan kesejahteraan nasional.
Padahal, investasi dan fokus pada pendidikan telah diamanatkan konstitusi, “memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.”
Gilang Tresna Putra Anugrah


